Skip to main content

Posts

Showing posts with the label MOVIE REVIEW

Keluarga Cemara dan Toxic Masculinity (?)

Toxic masculinity , mungkin istilah ini sudah sering bersliweran, baik di dalam perbincangan warung kopi atau di linimasa media sosial sejak awal 2018, hingga sekarang. Istilah populer tersebut dipakai untuk menjelaskan segala stereotip yang membentuk waham laki-laki sejati. Dikatakan jika laki-laki tidak boleh menangis, laki-laki harus tegas, laki-laki adalah pemimpin, laki-laki tidak boleh memasak di rumah karena itu tugasnya perempuan, dan banyak larangan-larangan lainnya. Kemunculan istilah toxic masculinity ini tentu saja pertanda baik bagi masyarakat Indonesia. Setidaknya melalui istilah tersebut, masyarakat menyadari jika di dalam lingkup ideologi patriarki, bukan hanya kelompok perempuan saja yang dirugikan, namun dalam beberapa kesempatan, laki-laki juga dirugikan oleh hal tersebut. Salah satu korbannya ialah karakter Abah di dalam film Keluarga Cemara garapan Yandy Laurens. Abah adalah karakter rekaan Arswendo Atmowiloto yang dihidupkan kembali oleh sosok Ringgo ...

Dilan, Dia adalah Hasratku Tahun 1990

Dilan, siswa SMA panglima geng motor yang kasar, ganteng, dan romantisnya kebangetan itu bukanlah tokoh utama. Dalam wujud yang sederhana, film garapan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini bercerita tentang Milea, subjek yang dalam pengembaraannya, berhasrat untuk membebaskan diri dari tubuh yang terkekang, melalui sosok Dilan. Milea adalah tokoh utama, namun tidak seperti tokoh-tokoh utama dalam film lain yang memiliki kekurangan dan sebuah tujuan yang ingin dicapai, Milea tidak. Dia telah sempurna bahkan sejak paragraf pertama film ini dituturkan. Jika merujuk konteks historis tahun 1990, Milea tentu berada pada posisi sosial tertinggi; dia anak seorang tentara, dia adalah anak Jakarta yang pindah ke Bandung untuk bersekolah. Menjadi wajar jika kemudian, Milea memiliki banyak teman, dia juga didekati banyak pria, padahal dia baru bersekolah selama dua minggu. Cerita tentang Milea, yang terkesan datar seharusnya tidak terlalu menarik. Sepanjang cerita, penonton tidak disuguhk...

Kebetulan Stereotip dalam Kue Manis Bernama Wonder

Pertemuan saya dengan Wonder, film garapan Stephen Chbosky tidaklah disengaja. Ketika itu saya bersama pacar ingin menonton Star Wars: The Last Jedi, namun penuh; lalu saya ganti ingin menonton Coco, ternyata waktunya tidak tepat karena bertabrakan dengan waktu Maghrib; lalu ketika saya ingin menonton Ayat-Ayat Cinta 2, ternyata pacar saya bukan penggemar Fahri yang katanya mau bubarin KPK ntuh . Jadi sebenarnya Wonder bukanlah film yang masuk kedalam list tontonan saya di penghujung 2017. Tetapi seperti kata pepatah yang saya bikin sendiri, “perjumpaan ada karena tidak terduga”, saya bersyukur berjumpa dengan Wonder, film ini bagus. Bagus. Kalau saya menjawab pertanyaan esai dengan kata tersebut, Dosen Pembimbing pasti sudah menulis dengan huruf-huruf kapital diatas lembar jawaban saya, “BAGUS? BAGUS APA? BAGUS NTRL? BAGUS MULYADI? KAPUR BAGUS? COBA KAMU ELABORASIKAN KATA BAGUS ITU.” Jadi begini, Wonder mengikuti cerita seorang Auggie Pullman, yang dideskripsikan oleh...

Istirahatlah Kata-Kata

“Menjadi buronan lebih menyeramkan..” Ya, itulah sepenggal kata-kata Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) yang ia gumamkan di tempat persembunyiannya di Pontianak, Kalimantan Barat. Didalam film Istirahatlah Kata-Kata itu, Wiji – seperti manusia pada umumnya merasakan takut dan cemas, ketika hidupnya kian tak menentu tatkala diburu oleh rezim penguasa. Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, Istirahatlah Kata-Kata menyajikan sepenggal kisah aktivis cum penyair ke tika ia menjadi buronan Negara pada 1996. Hidupnya yang kala itu dihabiskan dengan berpindah-pindah, selalu merasa terancam dan was-was, serta rasa rindu dengan istrinya, Sipon (Marissa Anita) disajikan Anggi dengan tempo lambat dan sunyi. Pemilihan tempo dan kosongnya musik latar menjadi kepiawaian Anggi dalam meramu film yang sukses menenggelamkan penonton ke pikiran dan emosi seorang Wiji. Puisi-puisi yang apik dibacakan dalam bentuk narasi oleh Gunawan pun menjadi penegas bagaimana terus bekerjanya otak Wiji untuk mencipt...

Mamoru Hosoda – Harmoni dan Keseimbangan

(Myanimelist.net Tepat rasanya jika saya mengamini pernyataan dosen yang mengatakan bahwa “film sebagai medium, merupakan pintu gerbang ke dunia yang baru, yang benar-benar berbeda.” Karena kenyataannya film memang seperti itu, saya selalu menemukan diri saya yang lain dalam film, entah diri saya itu jahat atau baik, saya tidak peduli. Keberhasilan penonton untuk tenggelam dalam film tidak bisa lepas dari tangan terampil sutradara ketika mengemas karya visual mereka. Dari situ, pendekatan teknis macam komposisi, golden ratio , warna, musik latar, cut-to-cut transition , hingga dialog antar aktor menjadi mantra yang mampu membuat para penonton terjun lebih dalam lagi. Buat saya, film anime merupakan satu dari sekian genre yang sukses membuat saya menyelam, berpindah ke pribadi satu dan lainnya (bukan Taat Pribadi). Nama Hayao Miyazaki tentulah memiliki tempat tersendiri dalam dunia-dunia favorit saya, tapi saya tidak akan membicarakan beliau, yang kali ini ingin saya angka...

Neon Genesis Evangelion – Sebuah Tamparan Keras Untukmu

“ Rain. gloomy mood, just like my mood. I don’t like that. ” “ Blue sky. Something warm, something unusual, something horrible. Something useless. I don’t like that. ” - Shinji Ikari Momen nostalgia bisa datang darimana saja. Kali ini ia muncul di Jogja, tempat saya menimba ilmu yang katanya wajib kritis juga emansipatoris. Di Jogja saya agak kesulitan dalam mengakses internet, entah adiksi atau bukan, tapi saya rasa ruang saya dalam berinternet masih begitu minim ketika dibandingkan dengan di rumah. Ketika internet mulai acuh dan saya mulai mencari pelarian, Jogja memperkenalkan kepada saya apa yang dinamakan “Luxury”. Internet cafe atau yang kerennya disebut warnet ini seperti kuil bagi saya. Saya masuk, saya berdoa sambil merelakan harddisk saya digagahi komputer yang asing, hingga akhirnya saya pulang membawa hasil. Hasil itu adalah serial lengkap 26 episode Neon Genesis Evangelion. Capek kalo saya musti menjelaskan apa itu Neon Genesis Evangelion, coba tanya ...

MOVIE REVIEW - Flying Colors (2015)

Rating: 9.5 Article is free spoiler certified Beside any superhero like DC or Marvel, people nowadays became a hero, almost through many simple thing. From helping the elders across the street, scored a goal in tight football match, even getting high score in mathematic quiz, they simply became a hero. So on, when we talk about “Flying Colors”, drama-comedy directed by Nobuhiro Doi, term that described as “person who exhibits great bravery” came from delinquent senior high school girl named Sayaka Kudo (Kasumi Arimura). With blonde highlight hair and short skirt, Kudo – labeled as gyaru – is a freewill person who goes around playing and skipping with her classmates, making her brain academically equal with elementary school student. Of course her mother is not happy. She decides to send Kudo to Seiho Cram School, getting her prepared for university entrance examination. Yoshitaka Tsubota (Atsushi Ito) as a cram school director, know about Kudo’s academic problem, de...

MOVIE REVIEW – Anohana The Movie: The Flower We Saw That Day (2013)

Rating: 7.5 contain with spoiler, read it wisely! Sebagai sidestory dari serial berjudul sama yang pernah melejit pada 2011, Anohana The Movie bercerita tentang kisah selanjutnya dari Jintan (Yumi Irino) dan kawan-kawannya setelah ditinggal oleh Menma (Kayano Ai). Selain diproduksi oleh A-1 Pictures – perusahaan yang banyak membidani lahirnya film bergenre slice of life , Anohana The Movie juga disokong oleh orang-orang berpengalaman macam Tatsuyuki Nagai sebagai sutradara, Mari Okada sebagai penulis skenario, dan REMEDIOS sebagai komposer yang mengisi BGM dari film ini.  Dengan titel “ A Letter To Menma ”, Jintan bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam grup Super Peace Busters memutuskan untuk membalas surat dari roh Menma yang pernah mengunjungi mereka.  Melalui surat tersebut, Jintan, bersama Anaru (Haruka Tomatsu), Yukiatsu (Takahiro Sakurai), Tsuruko (Hayami Saori), dan Poppo (Takayuki Kondou) coba membangkitkan kembali kenangan mereka tentang Men...

MOVIE REVIEW - Wolf Children Ame and Yuki (2012)

Rating: 8.5 “ The World is full of things i don’t know ”, adalah kata-kata Hana (Miyazaki Aoi) saat melihat lelaki yang disayanginya bertransformasi menjadi manusia serigala. Dengan genre fantasi juga slice of life , Wolf Children Ame and Yuki berhasil menyajikan film animasi, dengan cerita penuh filosofinya yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh banyak orang. Digarap secara apik oleh Mamoru Hosoda, sutradara yang juga melahirkan film animasi Summer Wars dan The Girls Who Leapt Through Time. Wolf Children Ame and Yuki adalah film sarat  fantasi, khas sutradara yang banyak dari karya-karyanya, berhasil menempatkan dirinya sejajar dengan sutradara kenamaan Studio Ghibli, Hayao Miyazaki. Hana adalah seorang wanita muda, pekerja keras yang selalu tersenyum. Pertemuannya dengan Ookami (Osawa Takao) di lingkungan kampus, diawali dengan rasa penasaran Hana yang melihat lelaki tersebut, selalu mencatat pelajaran dengan serius dan antusias. Kisah cinta merekapun terban...

MOVIE REVIEW - Tekkonkinkreet (2006)

Rating: 7.0 Ketidakteraturan itu sendiri adalah sebuah keteraturan, setidaknya itulah kata-kata yang menggambarkan Tekkonkinkreet . Film garapan Michael Arias yang digubah dari manga karya Matsumoto Taiyo ini, mungkin merupakan film animasi dengan background art paling mencengangkan dari semua film animasi yang pernah saya lihat. Saya tidak akan mengatakan ini adalah film yang simpel; tipikal Jepang. Tekkonkinkreet menyajikan gambar-gambar memusingkan, background art yang menjadi latar belakang adalah pembenturan dari hampir semua budaya yang ada di dunia, semuanya dicampur-adukan menjadi satu, dalam sebuah setting yang disebut Treasure Town. Treasure Town sendiri adalah kota sumpek kehidupan, tempat Kuro (Kazunari Ninomiya) dan Shiro (Yu Aoi) tinggal dan bertahan hidup sebagai anak jalanan. Tekkonkinkreet menceritakan perjuangan mereka berdua dalam mempertahankan Treasure Town, rumah mereka, dari gerombolan yakuza, sampai mafia licik serta para pembunuh bayara...