Skip to main content

Posts

Keluarga Cemara dan Toxic Masculinity (?)

Toxic masculinity , mungkin istilah ini sudah sering bersliweran, baik di dalam perbincangan warung kopi atau di linimasa media sosial sejak awal 2018, hingga sekarang. Istilah populer tersebut dipakai untuk menjelaskan segala stereotip yang membentuk waham laki-laki sejati. Dikatakan jika laki-laki tidak boleh menangis, laki-laki harus tegas, laki-laki adalah pemimpin, laki-laki tidak boleh memasak di rumah karena itu tugasnya perempuan, dan banyak larangan-larangan lainnya. Kemunculan istilah toxic masculinity ini tentu saja pertanda baik bagi masyarakat Indonesia. Setidaknya melalui istilah tersebut, masyarakat menyadari jika di dalam lingkup ideologi patriarki, bukan hanya kelompok perempuan saja yang dirugikan, namun dalam beberapa kesempatan, laki-laki juga dirugikan oleh hal tersebut. Salah satu korbannya ialah karakter Abah di dalam film Keluarga Cemara garapan Yandy Laurens. Abah adalah karakter rekaan Arswendo Atmowiloto yang dihidupkan kembali oleh sosok Ringgo ...

Aishiteraburu

Mobil merah konvertibel itu melaju kencang, melipat-lipat hamparan hutan pinus yang tertinggal bersama dengan deru mesin. Perempuan berbaya itu menyetir, suntuk dan jari-jarinya mengetuk tuas persneling. Aku di samping, melihat rambutnya berusaha dibawa lari oleh angin sedangkan belum ada keinginan ini untuk menyatakan cinta. Perempuan itu adalah penculik, setidaknya itu yang dia bilang ketika menelepon keluargaku tadi. Dia mengajak aku pergi ketika aku pulang sekolah, di waktu-waktu yang panas, ketika si bangsat Herman memukul perutku dan pekerjaan rumah yang belum dikumpulkan. Aku pernah dengar nasehat para orang tua soal orang asing. Jangan percaya mereka sama sekali. Tapi pada orang tua yang tidak pernah percaya tentang orang asing jahat yang cantik, kini dia tepat di depanku, menatap dari atas ke bawah. Perempuan tersebut menghampiriku, angkuh dan tidak bisa ditolak. Dia bilang akan mengajak aku ke suatu tempat yang menyenangkan. “Menyenangkan untuk siapa?” aku bil...

Dilan, Dia adalah Hasratku Tahun 1990

Dilan, siswa SMA panglima geng motor yang kasar, ganteng, dan romantisnya kebangetan itu bukanlah tokoh utama. Dalam wujud yang sederhana, film garapan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini bercerita tentang Milea, subjek yang dalam pengembaraannya, berhasrat untuk membebaskan diri dari tubuh yang terkekang, melalui sosok Dilan. Milea adalah tokoh utama, namun tidak seperti tokoh-tokoh utama dalam film lain yang memiliki kekurangan dan sebuah tujuan yang ingin dicapai, Milea tidak. Dia telah sempurna bahkan sejak paragraf pertama film ini dituturkan. Jika merujuk konteks historis tahun 1990, Milea tentu berada pada posisi sosial tertinggi; dia anak seorang tentara, dia adalah anak Jakarta yang pindah ke Bandung untuk bersekolah. Menjadi wajar jika kemudian, Milea memiliki banyak teman, dia juga didekati banyak pria, padahal dia baru bersekolah selama dua minggu. Cerita tentang Milea, yang terkesan datar seharusnya tidak terlalu menarik. Sepanjang cerita, penonton tidak disuguhk...